Laman

Sabtu, 26 Mei 2012

Psikologi Pengertian dan Perkembangannya



Syariffudin

Pendahuluan
          Kira-kira tahun 1879, Wilhelm Wundt (1832-1920) menemukan suatu displin ilmu yang disebut sebagai psikologi. Dari sinilah muncul aliran yang disebut strukturalisme sebagai pemula yang berjasa mengangkat psikologi sebagai disiplin ilmu yang otonom. 
Wilhelm Wundt membuka laboratorium psikologi yang pertama tahun 1879 di Leipzig, Jerman. Beliau yang pertama menyelidiki peristiwa kejadian secara laborer dan experimen dan diakui oleh universitas pada tahun 1886. Ia seorang ahli psikologi tetapi mempunyai pandangan bahwa physiologi[1] dapat dipandang sebagai pembantu psikologi.[2]
Bertolak belakang dari pendapat tersebut di atas, E.F. Schumaker mengatakan: Psikologi merupakan sesuatu yang disebut baru. Ini salah sama sekali. Psikologi barangkali merupakan ilmu tertua, dan sayangnya, di dalam ciri-cirinya yang paling hakiki merupakan suatu ilmu yang terlupa. “Ciri-ciri yang paling hakiki” ini terutama telah menampilkan diri di dalam ajaran-ajaran agama, dan menghilangnya terutama diterangkan oleh merosotnya agama-agama selama beberapa abad terakhir.[3]
Pembahasan
Sejarah Perkembangan Psikologi
Sebelum psikologi itu berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan pada tahun 1897, psikologi (atau tepatnya gejala-gejala kejiwaan) dipelajari oleh filsafat dan ilmu faal. Filsafat sudah mempelajari gejala-gejala kejiwaan sejak 500 atau 600 tahun sebelum masehi, yaitu melalui filosof-filosof Yunani kuno seperti Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM).
Pada jaman Renaisan, misalnya: Rene descartes (1596-1650), seorang Filosof Perancis, pernah mencetuskan definisi tentang ilmu jiwa yaitu ilmu tentang kesadaran. Dalam era yang sama, tetapi pada generasi berikutnya, George Berkeley (1685-1753) seorang filosof Inggris mengemukakan pendapatnya bahwa psikologi adalah ilmu tentang penginderaan (persepsi). 
Di pihak lain, para ahli ilmu faal, khususnya para dokter yang mulai tertarik pada masalah-masalah kejiwaan ini pada saat yang bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negara-negara Eropa berpendapat bahwa jiwa erat sekali hubungannya dengan susunan syaraf dan refleks-refleks. Dimulai dengan Sir Charles Bell (1774-1842, Inggris) dan Francois Magensie (1783-1855, Perancis) yang menemukan syaraf-syaraf sensorik (yang mempengaruhi gerak dan kelenjar-kelenjar). Para ahli kemudian menemukan berbagai hal, antara lain pusat berbicara di otak (Paul Brocca, 1824-1880, Jerman) dan mekanisme refleks (Marshal Hall, 1790-1857, Inggris). Setelah penemuan-penemuan itu timbullah definisi-definisi tentang psikologi yang mengaitkan psikologi dengan tingkah laku dan selanjutnya mengaitkan tingkah laku dengan refleks. Ivan Pavlov (1849-1936, Rusia) misalnya mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang refleks dan karena itu psikologi tidak berbeda dari ilmu faal.
Definisi Psikologi
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata-kata Yunani: Psyche yang berarti jiwa dan Logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi berarti lmu jiwa. Kekaburan definisi “jiwa” menyebabkan perbedaan pendapat terhadap definisi psikologi itu sendiri.[4]
Dr. W.A. Gerungan mengatakan bahwa ilmu jiwa belum tentu psikologi, tetapi psikologi itu ilmu jiwa. Ilmu jiwa lebih luas artinya, psikologi lebih sempit. Kemudian dikemukakan macam-macam perkataan jiwa yang masih mengandung pengertian yang khusus yang terkandung sifat kebatinan manusia, misalnya: nyawa, sukma, jiwa, atma, rohani, rachal hayat, roh robani. Arti pokok jiwa dapat diartikan kekuatan yang jadi penggerak manusia. Dalam hal ini dapat disamakan dengan perkataan dalam bahasa Arab yaitu :rochal hayat artinya sebab hidup, lain daripada itu disebut juga semangat, berjiwa lemah, berjiwa keras.[5]
Profesor Ladd mengartikan ilmu jiwa sebagai deskripsi dan keterangan dari status kesadaran termasuk status kesadaran adalah sebagai hal seperti sensasi, napsu, emosi, tanggapan, pikiran, keputusan, pemecahan, kesukaan dan sebagainya.[6]
 Perkembangan Definisi-Definisi Psikologi
Perkembangan definisi-definisi psikologi masih berlanjut hingga sekarang. Diantara para sarjana psikologi modern yang mengemukakan definisi psikologi, dapat dikemukakan beberapa diantaranya, misalnya:
Clifford T. Morgan: “Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan”.
Edwin G. Boring dan herbert S. Langfeld: “Psikologi adalah studi tentang hakekat manusia”
Garden Murphy: “Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya”.
Dr. Sarlito Wirawan Sarwono: “Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya”.
Dalam definisi di atas kita lihat beberapa unsur, yaitu: ilmu pengetahuan, tingkah laku, manusia dan lingkungan.
Psikologi termasuk ilmu pengetahuan positif yaitu perkataan jiwa seperti yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara diartikan: a) Kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia, b) Serta menyebabkan manusia dapat berpikir, berperasaan dan berkehendak (berbudi), c) Lagi pula menyebabkan orang mengerti dan insaf segala gerak jiwanya.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang memiliki sifat-sifat ilmiah, yaitu:[7]
a.    Sasaran: merupakan syarat mutlak di dalam suatu ilmu, untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam mengupas lapangan ilmu. Tanpa adanya sasaran tertentu dapat dipastikan tidak ada pembahasan yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi keilmuwan.
b.    Metode: cara pemecahan tertentu dan merupakan pembahasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dari segi inilah terletak scientificnya.
c.    Sistematik: merupakan hasil pendekatan terhadap sasarannya, sehingga memudahkan untuk mengikuti pembahasannya.
d.    Sudut Pandangan: manusia disamping mempunyai persamaan juga mempunyai perbedaan yang menyebabkan perbedaan dalam pengupasan suatu masalah sesuai dengan sudut pandangannya.
Pengertian Psikologi Dari Sudut Aliran dan Sudut Pandangan Para Ahlinya[8]
1.    Aliran Filosofis
Ilmu jiwa adalah suatu ilmu yang mempelajari hakikat daripada jiwa dan proses kejiwaan. Menurut ahli filsafat, dipermasalahkan apa hakikat jiwa, bagaimana sebab musabab jiwa dan sebagainya. Tindakan ini bukan murni ilmu jiwa tetapi banyak dipengaruhi filsafat, maka disebut aliran jiwa filsafat.
2.    Aliran Sosiologi
ilmu jiwa yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari proses penyesuaian diri manusia dengan alam sekitarnya. Manusia ditinjau sebagai makhluk sosial, jadi mementingkan pandangan-pandangan kemasyarakatan (sosiologis). Oleh sebab itu aliran ini disebut aliran sosiologis.
3.    Aliran Behaviorisme
Ilmu jiwa yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagaimana yang nampak sehari-hari. Yaitu tingkah laku yang nampak keluar, tidak mempermasalahkan hakikat jiwa.
4.    Aliran Biologi
Alirannya disebut aliran biologisme dalam ilmu jiwa. Membahas soal keturunan dari segi jasmaniah dan rohaniah, dengan sudut pandangan yang berbeda.
5.    Aliran Antropologi
Aliran ini mempelajari makhluk antropos (manusia), dengan aneka warna dasar kebudayaannya.
Lapangan Psikologi
a.    Segi Sasaran
Lapangan psikologi dalam kaitannya dengan segi sasaran yang dimaksud yaitu :[9]
  1. Manusia: menyelidiki dan mempelajari kejiwaan manusia
  2. Hewan: menyelidiki dan mempelajari kejiwaan hewan
Menurut Aristoteles, tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa dan mempunyai perbedaan tingkat tingkah laku:[10]
  1. Anima Vegetativa, yaitu anima (jiwa) yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk bernapas, makan, tumbuh dan berkembang.
  2. Anima Sensetiva, yaitu anima (jiwa) yang terdapat pada hewan, disamping kemampuan seperti di atas, ditambah dengan kemampuan mengamati, berpindah tempat, bernapsu.
  3. Anima Intelektiva, yaitu anima (jiwa) yang terdapat pada manusia selain mempunyai kedua kemampuan di atas, ia berbeda dan mempunyai kemampuan lain yaitu berfikir dan berkemauan.
Dengan demikian, menurutnya, jiwa yang lebih tinggi mencakup sifat kemampuan jiwa yang lebih rendah. Dr. Busono Wiwoho dan Drs. Bimo Walgito mengemukakan bahwa yang mengemukakan teori tersebut Aristoteles, sedangkan Dr. Singgih mengatakan bahwa pendapat tersebut dari Plato dengan bukunya “Republic”.
b.    Obyek Psikologi
Obyek psikologi itu tingkah laku manusia sebagai makhluk hidup yang berkembang.[11]

Penutup
Dari urian di atas, ada tiga hal yang dapat kita ambil sebagai kesimpulan:
1.    Wilhelm Wundt dianggap sebagai Bapak Psikologi karena ia berjasa mengangkat psikologi sebagai disiplin ilmu yang otonom. 
2.    Psikologi termasuk ilmu yang sangat tua.
3.    Ilmu jiwa lebih luas maknanya dari psikologi itu sendiri.


Daftar Pustaka

1.    Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr., Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta:Bulan Binta, 1996)
2.    Surakhmad, Winarno, Prof, M.Sc., Ed, et. All, Psikologi Umum dan Sosial, (Jakarta:CV Jasanku, 1979)
3.    Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Agama, Sebuah Pengantar, (Bandung:Mizan, 2003)
4.    Rakhmat, Jalaluddin, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim, (Bandung:Mizan, 1991)
5.    Husein, Elidar, Dra., Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta:Fakultas Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1990)
6.    Bahesty, Prof., Dr., et.all, Our Filosopy, terj: Sofyan Abu Bakar, Prinsip-prinsip Islam dalam Al-Qur’an, (Jakarta:Risalah Masa, 1991)
7.    Echols, John M., et. All, Kamus Ingris-Indonesia, (Jakarta:Gramedia, 1993)
8.    Schumaker, E.F., A Guide For the Perplexed, Keluar Dari Kemelut, Terj: Mochtar Pabotinggi, Cet.3, (Indonesia:LP3ES, 1988)
9.    Van Fleet, James K., 25 steps to Power and Mastery Over People, Terj: Anton Adiwiyoto, 25 Langkah Untuk Memiliki Pengaruh dan Kekuasaan Atas Orang Lain, Cet.4, (Jakarta:Mitra Utama, 1997).




[1] Ilmu faal alat tubuh. Lihat Kamus Ingris Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily, (Jakarta:Gramedia, 1993), h. 428.
[2] Dra. Elidar Husein, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta:Fakultas Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1990), h.14.
[3] E.F. Schumaker, A Guide For the Perplexed, Keluar Dari Kemelut, Terj: Mochtar Pabotinggi, Cet.3, (Indonesia:LP3ES, 1988), h.75
[4] Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta:Bulan Bintang, 1996), h.3
[5] Dra. Elidar Husein, Op. Cit,  h.1
[6] Ibid,  h.4
[7] Ibid, h.2
[8] Ibid, h.2-3
[9] Ibid, h15
[10] Ibid, h.18
[11] Ibid, h.6