Laman

Minggu, 06 Mei 2012

Gejala Manusia Normal dan Gejala Perhatian



Syariffudin

Pada setiap individu manusia normal, terdapat gejala-gejala kejiwaan atau pernyataan-pernyataan jiwa yang sulit untuk diselesaikan. Untuk itu, butuh  waktu  menyadarkan kembali pada kondisi semula.
Setiap individu yang normal, umumnya memiliki gejala-gejala kejiwaan atau pernyataan-pernyataan jiwa yang secara garis besarnya dapat dibagi menjadi empat bagian: (1) Gejala pengenalan (kognisi); termasuk kegiatan psikis pengenalan atau kognisi ini adalah gejala-gejala jiwa seperti: pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi dan intelligensi, (2) Gejala jiwa perasaan (emosi); Bigot dkk membagi jiwa perasaan ini menjadi dua bagian, perasaan-perasaan jasmaniah dan rohaniah, (3) Gejala jiwa kehendak (konasi), terdiri atas gejala kehendak yang indriah dan gejala kehendak yang rohaniah, serta (4) Gejala campuran, yaitu: perhatian, kelelahan,dan saran atau sugesti.
Perhatian adalah konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian dan sebagainya. Ada beberapa macam jenis perhatian: (1) Perhatian keindraan, yaitu perhatian yang ditujukan oleh indra kepada sesuatu obyek pengindraan, (2) Perhatian kerohanian, yaitu perhatian yang ditujukan oleh jiwa kita kepada sesuatu pernyataan jiwa, misalnya memusatkan pikiran, perasaan dan sebagainya, (3) Perhatian yang disengaja, yaitu perhatian yang dengan sengaja kita pusatkan kepada sesuatu, misalnya kepada keterangan guru, orang tua dan sebagainya, dan (4) Perhatian yang tidak disengaja, yaitu perhatian yang timbul bukan karena kemauan.
Hal-hal yang menarik perhatian adalah yang sudah dikenalnya, yang aneh baginya, serta yang mencolok. Disamping itu terdapat juga hal-hal yang dapat mempengaruhi perhatian, antara lain: (1) Keadaan jasmani, misalnya lelah, lapar, pingsan, dan sebagainya, (2) Keadaan rohani, misalnya lelah, bingung dan sebagainya, (3) Lingkungan, misalnya lingkungan yang baru dan yang sudah dikenal, serta (4) Bakatnya menurut tipe-tipe perhatiannya.
Kelelahan adalah semacam peringatan dari jiwa kita kepada jiwa dan raga, bahwa jiwa dan raga telah mempergunakan kekuatan yang maksimal. Ia bisa diselidiki dengan menggunakan alat-alat berikut: (1) Dinamometer ; dipergunakan untuk mengukur psykhis dengan jalan mengukur tenaga urat daging tangan  yang menggenggam lingkaran batang dynamometer tersebut, (2) Aesthosiometer; digunakan untuk mengukur kelelahan psykhis dengan jalan mengukur keadaan perasa kulit yang ditusuk dengan kedua jarum dari alat tersebut. Dari sini ternyata bahwa makin letih seseorang, perasa kulitnya makin lemah, yang diketahui dari makin lebarnya jarak kedua jarum tersebut, dan (3) Ergograf; digunakan untuk mengukur keletihan tubuh yang terpengaruh kepada kelelahan psykhis. 
Adapun saran atau sugesti, yaitu pengaruh terhadap jiwa dan laku seseorang dengan maksud tertentu sehingga pikiran, perasaan dan kemauan terpengaruh olehnya dan menuruti saja pengaruh tersebut tanpa memikirkan dan mempertimbangkan.
Orang yang mensugesti disebut dengan sugestif, dan orang yang diberi saran namanya sugestibel.
Cara-cara untuk mensugesti yaitu: (1) Dengan membujuk atau memuji, misalnya kepada anak yang bodoh, tidak pernah dikatakan bahwasanya dia bodoh. Guru selalu berusaha agar anak itu maju dengan jalan membujuk dia agar lebih rajin, (2) Dengan menakut-nakuti orang yang disugesti, misalnya pada malam-malam hari kepada anak sering dikatakan adanya ‘momok’ yang suka anak nakal, anak malas, dan sebagainya dengan maksud agar anak itu menurut apa yang dia perintahkan kepadanya, (3) Dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan kepada orang yang disugesti, misalnya orang yang putus kakinya dapat menjadi gelisah bahkan putus asa untuk hidup, kalau kepadanya dikatakan bahwa ia sudah tidak lagi dapat bekerja, tidak dapat lagi menjadi anggota masyarakat yang baik, tidak akan dapat lagi mencari nafkah, dan betapalah celakanya orang yang semacam kau, kau lebih baik mati saja, dan sebagainya.
Adapun manfaat sugesti di dalam pendidikan adalah: (1) Dengan sugesti, anak yang malas, yang menderita rasa harga diri kurang dan anak yang hampir putus asa dapat menjadi sehat dengan sugesti yang positif, (2) Dengan pelajaran-pelajaran yang sukar, menjadi agak mudah dirasakannya.
Disamping itu, sugesti juga memiliki bahaya, diantaranya: (1) Sugesti yang negatif; orang yang memberi sugesti semacam ini berarti pula membunuh orang yang disugesti, (2) Sugesti yang tidak tepat, misalnya seorang guru yang memerintahkan sesuatu kepada muridnya dengan segala kekerasan.
            Gejala-gejala kejiwaan yang terjadi, bisa menimpa siapa saja, dan umumnya terjadi pada manusia yang normal sehingga manusia tersebut menjadi malas untuk melakukan aktifitas.

Daftar Pustaka
1.    Irwanto, Psikologi Umum, (Jakarta:PT Prehallindo,2002)
2.    Sujanto, Agus, Psikologi Umum, (Jakarta:PT Bumi Aksara,2001)
3.    Sabri, Alisuf,M., Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (-:CV Pedoman Ilmu Jaya, 2001).

0 komentar:

Poskan Komentar